NABIRE — Sebuah momen bersejarah terukir di Bandara Udara Nabire pagi itu. Langit cerah menyambut kedatangan Natalius Pigai, Menteri Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, yang pulang ke tanah kelahirannya di Papua Tengah untuk merayakan langsung puncak peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia bersama masyarakat daerahnya.
Kedatangan putra asli Papua Tengah ini disambut langsung oleh Wakil Gubernur Papua Tengah, Deinas Geley, S.Sos., M.Si., bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) yakni Kapolda Papua Tengah Brigjen Pol. Jeremias Rontini, Penjabat Sekretaris Daerah dr. Silwanus Soemoele, staf ahli Gubernur, serta para asisten Sekda dan kepala OPD.
“Pagi ini saya bersama rombongan, Kapolda dan seluruh Forkopimda pergi ke bandara menjemput Kakak Menteri Natalius Pigai. Setelah itu, kami mengantar beliau menuju hotel sebelum kembali menjalankan agenda lainnya,” ujar Deinas Geley, menggambarkan suasana penyambutan yang berlangsung hangat dan penuh kebanggaan.
Tujuan utama kedatangan Menteri HAM ke Nabire adalah satu: mengikuti dan mengambil bagian dalam upacara peringatan detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 yang digelar di lapangan kantor Gubernur Provinsi Papua Tengah, Nabire, pada Senin, 17 Agustus 2026.
Bagi Papua Tengah yang baru berdiri empat tahun, ini adalah sejarah baru dan untuk pertama kalinya, seorang Menteri Kabinet Merah Putih di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto memilih merayakan hari kemerdekaan bersama rakyat di bumi Papua Tengah.
“Tujuan beliau datang ke sini untuk mengikuti dan mengambil bagian dalam upacara peringatan detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia di Lapangan Kantor Gubernur Provinsi Papua Tengah,” kata Deinas Geley.
Wakil Gubernur menegaskan bahwa kehadiran Natalius Pigai memiliki makna ganda sebagai representasi pemerintah pusat sekaligus sebagai putra daerah yang pulang membawa amanah negara.
Selain mengikuti upacara, Menteri HAM juga dijadwalkan menggelar dialog bersama jajaran Forkopimda Papua Tengah. Dialog ini menjadi ruang strategis untuk membahas pelaksanaan, perlindungan dan pemenuhan hak asasi manusia di tengah percepatan pembangunan daerah dari distrik ke distrik, dari kampung ke kampung.
Kehadiran langsung Menteri HAM untuk berdialog di daerahnya sendiri mengirim pesan yang tegas: HAM bukan sekadar dokumen kebijakan dari pusat, melainkan harus hidup, tumbuh dan dirasakan hingga ke akar rumput. Di tanah yang kaya akan budaya dan kearifan lokal ini, pembangunan yang berkeadilan dan menghormati martabat setiap warga adalah fondasi bagi kemajuan yang berkelanjutan.
Natalius Pigai bukan sekadar pejabat negara yang bertandang ke daerah. Ia adalah putra asli Papua Tengah yang lahir, tumbuh dan dibesarkan di tanah ini. Sebagai satu-satunya putra asli Papua Tengah yang menduduki jabatan menteri sepanjang sejarah, keputusannya untuk pulang dan merayakan kemerdekaan bersama masyarakat Nabire memancarkan makna yang luhur.
Kemerdekaan sejati adalah ketika anak-anak terbaik bangsa, dari manapun asalnya, dapat berdiri setara di panggung nasional dan tetap memiliki keberanian serta kerendahan hati untuk pulang, berdiri bersama saudara-saudaranya di tanah kelahirannya sendiri.
Kehadiran Natalius Pigai di Nabire pada 17 Agustus 2026 akan tercatat dalam ingatan kolektif masyarakat Papua Tengah sebagai momen ketika sejarah baru ditulis bukan oleh satu orang, melainkan bersama-sama, di tanah sendiri. Seperti yang dikatakan Wagub Deinas Geley, ini adalah sejarah baru — dan di dalamnya mengalir harapan bahwa masa depan Papua Tengah akan semakin terang, adil dan bermartabat. (*)

