Nabire – Para siswa dan siswi tingkat SMA dan SMK dari delapan kabupaten di wilayah Provinsi Papua Tengah memenuhi pusat ibu kota provinsi, menyulap lokasi acara yang berada di kompleks kantor Gubernur Papua Tengah menjadi lautan semangat, warna dan suara khas dari masing-masing daerah. Festival Cahaya Kreasi Budaya Pelajar 2026 yang dibuka secara resmi oleh Gubernur Meki Nawipa, SH pada Rabu, (23/6/2026) ini bukan sekadar panggung unjuk bakat, melainkan dinilai sebagai kepentingan investasi nyata bagi identitas dan masa depan daerah kepada para sebagai generasi penerus bangsa khususnya di Papua Tengah.
“Saya mengucap syukur karena budaya Papua yang lebih mahal dari emas dan tembaga masih ada sampai hari ini,” ujar Gubernur Meki Nawipa, SH membuka pesannya, menegaskan bahwa warisan leluhur adalah harta tak ternilai yang harus dijaga bersama.
Di tengah derasnya arus informasi dan pengaruh luar yang palang‑memalang jalan warisan leluhur, kehadiran generasi muda menjadi benteng sekaligus pembawa pembaruan.

Agar semangat itu tetap terjaga dan berkelanjutan, Gubernur pertama di daerah otonom baru ini memberikan seruan tegas terkait perilaku bahwa para pelajar diminta menjauhi minuman keras, narkoba, dan segala bentuk kenakalan remaja. Energi muda yang besar itu, kata dia, sebaiknya dialihkan sepenuhnya untuk mengukir prestasi, baik di bidang akademik, seni, maupun olahraga.
“Yang utama adalah bagaimana anak‑anak saling menghormati, menjaga kekompakan, dan pulang membawa bekal persaudaraan yang erat. Kalian adalah motor penggerak pembangunan Papua Tengah. Masa depan daerah ini ada di pundak kalian,” katanya.
Gubernur juga mengungkapkan komitmen dirinya bersama Wakil Gubernur Deinas Geley, S. Sos, M.Si dalam sektor pendidikan. Sepanjang tahun 2026, pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp77,84 miliar untuk program pendidikan gratis yang mencakup biaya operasional siswa SMP, SMA, SMK, SLB, serta biaya asrama.
“Tidak ada lagi alasan bagi anak-anak Papua untuk putus sekolah. Pemerintah telah menjamin dukungan pendanaannya,” ujarnya.
Peserta tak hanya menampilkan tarian adat, nyanyian berbahasa daerah, atau irama tifa dan pikon atau kaido, mereka juga meramu tradisi dengan gagasan baru yakni busana adat dikreasikan ulang, cerita lisan disusun jadi naskah drama atau lagu modern, hingga hasil kerajinan anyaman dan ukiran dikembangkan menjadi produk bernilai guna tinggi.
“Di sini kami belajar: maju mengikuti zaman tidak harus berarti melepaskan akar. Justru budaya adalah kekuatan yang membuat kami beda dan kuat,” ujar Maria, salah satu siswa peserta dari Kabupaten Deiyai.
Ketua Panitia Pelaksana, Deni Tenouye menegaskan bahwa keikutsertaan pelajar dari berbagai penjuru sekaligus mempererat ikatan persaudaraan. Berbeda asal lembah, berbeda dialek, namun satu tujuan yaitu menjaga agar “api budaya” tak padam ditelan waktu.
“Selama berlangsungnya festival, pameran karya, lomba seni, hingga diskusi santai antarpelajar akan terus berjalan,” kata Tenouye.
Bagi Papua Tengah, momen ini adalah bukti hidup bahwa identitas bukan warisan mati yang disimpan, melainkan cahaya yang terus dinyalakanboleh tangan‑tangan muda, untuk masa depan bersama. (*)

